Posted by Andi on Oct 22, '07 12:13 PM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Ini bukan film baru namun saya sangat terkesan menontonnya, setelah saya tonton ulang tadi malam he...he... . Namun dianjurkan untuk menontonnya sendiri saja tanpa anak-anak, karena banyak adegan berdarah di dalamnya.
Sebenarnya agak bingung memilih genre yang disediakan oleh Multiply untuk review The Last Samurai (TLS) ini. Film epic yang menceritakan kehidupan masa-masa akhir kaum samurai ini memang sepintas terlihat sebagai film action dan adventure, itulah sebabnya saya pilihkan genre ini untuk TLS. Namun jika dinikmati dan diperhatikan, TLS juga film pendidikan dan kebudayaan, walaupun di sisi sejarah (menurut ahli) film ini banyak memiliki kekurangan.
Aspek pendidikan dalam hal ini adalah nilai-nilai Bushido dari bangsa Jepang yang hendak digambarkan oleh sang sutradara Edwark Zwick, yang terdiri dari nilai-nilai: 1. Kebenaran 2. Keberanian 3. Kebajikan 4. Saling Menghargai 5. Kejujuran 6. Kehormatan 7. Kesetiaan Nilai-nilai ini pasti ada di setiap bangsa dan kelompok manusia. Jika anda sempatkan menonton film-film lain seperti: The Lion of the Desert (Antony Quinn, 1981), The Rock (Sean Connery, 1996), Tjoet Nyak Dien (Christin Hakim, 1988), The Braveheart (Mel Gibson, 1995) dan banyak lagi lainnya, tentu anda bisa menarik benang merah dari film-film ini.
Sementara dari sisi Budaya, tergambarkan proses peralihan Jepang tradisional menuju Jepang modern di mana benturan-benturan budaya terjadi, baik antara budaya Tmur dan budaya Barat, maupun di dalam budaya Jepang sendiri. Sebuah tradisi yang agung yang telah berlangsung berabad-abad (tradisi Samurai), terpaksa kalah dan terhapus dalam benturan ini. Walaupun tradisi ini sudah terkikis habis, hingga kini nilai-nilai tersebut masih tetap diwariskan ke anak cucu bangsa Jepang.
 Posted by Andi on Sep 9, '07 5:39 PM for everyone | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Sekitar SMUN 1 Makassar |
Jika ditanya tempat yang paling dashyat menyajikan Coto Makassar, saya akan menjawab Warung Coto Sinjai (biasa kami singkat CoSin), letaknya di samping SMUN 1 Makassar (di jalan yang tegak lurus dengan Jl. Bawakaraeng). Tapi bagi yang tidak biasa makan 'berjibaku' alias makan dengan resiko tinggi sakit perut, tidak disarankan ke sana. Tempatnya jorok, biasanya kita akan menyantap bersama dengan para Daeng tukang becak. Warungnya berada di atas got besar, jadi aroma juga agak sedikit mengganggu. TAPI dari kualitas CONTENT... wah jangan tanya. TOP BGT. Di sini biasanya kami makan dengan formula 1:3:5, yang artinya 1 porsi isi (daging/hati/jeroan), 3 ketupat dan 5 kali nambah kuah (nambah kuah selalu gratis). Siap-siap dengan obat diatab, atau entrostop dan sejenisnya.. jika perlu bawa antibiotik ...ha...ha.... Hanya sayangnya ini review harusnya dilakukan 10-15 tahun yang lalu saat saya masih SMA :D. Kondisi sekarang belum terupdate informasinya. Posted by Andi on Sep 9, '07 4:56 PM for everyone  | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Cihideung (?), Bandung |
Saya tidak terlalu yakin nama lokasinya, yang jelas tempat ini dapat dicapai melalui jalur jalan Sersan Bajuri (dekat Ledeng) menuju Cihideung. Menu favorit kami adalah nasi liwet dan jus strawberry yang plain (tanpa gula). Menu nasi liwet ini jangan di salah tafsirkan dengan Nasi Liwet ala Solo karena keduanya betul-betul berbeda. Nasi Liwet ala Cihideung ini adalah nasi yang dimasak menggunakan Castrol (wadah mirip panci, terbuat dari aluminium yang tebal dan biasanya dipakai oleh para pencinta alam untuk memasak kala sedang berpetualang), dengan tambahan beberapa campuran bumbu. Lauk khas yang menyertainya adalah ikan peda (ikan asin), ayam goreng 4 potong, tahu/tempe dan sambal terasi. Satu porsi pesanan cukup untuk 4 orang.
Bagi orang tua yang ingin memperkenalkan tumbuhan/tanaman strawberry dan ikut proses pemetikan bisa meminta kepada pihak Rumah Strawberry, mudah-mudahan kebunnya sedang dalam masa petik.  Posted by Andi on Sep 3, '07 10:38 PM for everyone  Tempat belanja oleh-oleh di Yogyakarta ini saya rekomendasikan buat para pemburu cindera mata khas Yogya. Tempatnya adem, walaupun tanpa AC karena terletak di ketinggian lereng Kaliurang dan agak jauh dari keramaian kota. Pencapaiannya cukup mudah, tinggal cari jalan Kaliurang menuju kampus UII Yogyakarta. Jika anda berangkat dari arah kota maka letaknya di sebelah kiri jalan. Benda-benda yang dijual bervariasi sekali, mulai yang kecil hingga besar, yang murah hingga mahal. Banyak sekali yang unik juga, termasuk rokok-rokok yang tidak pernah anda temukan di pasaran, dengan merek yang aneh-aneh. Pelayanannya OK... tapi mungkin rada geuleuh bagi cowok. Kenapa? coba langsung aja cek ke sana he...he...  Posted by Andi on Sep 3, '07 10:30 PM for everyone  | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Wonogiri, Jawa Tengah |
Ayam bakar mbok Tiyem ini sebelumnya hanya berada di sebuah tempat yang agak terpencil dan kurang populer yaitu Jatisrono. Lokasinya berada di tepi jalan luar kota kira-kira 50km di sebelah Selatan kota Solo. Namun untungnya belakangan ini, mbok Tiyem membuka cabang di kota Wonogiri yang artinya lebih dekat sedikit ke kota Solo. Jarak tempuh 'cuma' 30km dari kota Solo ke arah Selatan. Hal spesial tentang ayam bakar ini adalah rasa yang khas dan merasuk ke setiap serat daging ayamnya. Ini disebabkan oleh metode pembakaran yang juga unik yaitu menggunakan wadah tanah liat yang dibakar dalam nyala bara yang besar, hingga bumbu-bumbu yang dirajik bisa merasuk ke dalam daging ayamnya. Rasanya? Jangan ditanya lagi.... langsung saja rasakan.
 Posted by Andi on Sep 3, '07 3:15 PM for everyone | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Setiabudi (depan NHI) Bandung |
Review yang tertinggal, mudah-mudahan masih bermanfaat bagi yang di Bandung. Sebenarnya ini agak membingungkan untuk memberikan review pada Tata Ribs ini, karena dalam kesempatan dua kali mengunjungi tempat ini terdapat dua kesan yang berbeda. Jenis makanan yang saya review adalah Coto Makassar. Pertama kali kami ke sana, kami makan di tempat. Rasanya waktu itu biasa-biasa saja. Bahkan terlalu biasa jika dibandingkan dengan pendahulunya yang pernah bercokol di jalan Gandapura (yang terakhir pindah ke jalan Tongkeng, yang akhirnya sekarang tutup). Yang kedua, karena butuh untuk makan malam di rumah bersama anak-anak, saya putuskan untuk beli dan dibungkus pulang. Yang ini rasanya jauh lebih enak dari kunjungan yang pertama dan mungkin karena dibungkus, kita dapat porsi yang lebih banyak. Jadi kesimpulannya, kunjungan pertama 2 bintang dan yang kedua dapat 4 bintang.. so fair-nya bintang 3 lah....
| |