Posted by Andi on Dec 28, '07 2:59 AM for everyone

Sudah beberapa minggu ini saya tertarik sekali untuk membaca tulisan-tulisan tentang Lingkungan yang Berkelanjutan, termasuk di dalamnya tentang ekologi. Menarik sekali membaca pola hubungan antara manusia dan alam dari waktu ke waktu. Lagi-lagi ingatan tentang salah satu kuliah di Ruang 6101 terungkap kembali dari tempat penyimpanannya yang nyaman di otak kanan saya. Pak dosen favorit saya kala itu yang menyampaikan (mudah-mudahan saya tidak salah men-transmisi-kan), mengutip dari Florence R. Kluckhohn (kalo nama ini saya ambil dari ruang otak istri saya yang memang kapasitas memorinya lebih besar), bahwa dalam hubungannya dengan alam, manusia mempunyai 'value-orientation' yang bertingkat. Tingkatan pertama diistilahkan sebagai 'Mythic' di mana manusia 'dikuasai' oleh alam. Manusia dikejar-kejar oleh binatang buas, menjadi mangsa sebagaimana nasib binatang buruan lainnya. Manusia lari dari hujan dan panas matahari, dengan berlindung di gua-gua dan rumah yang tinggi-tinggi. Manusia takut terhadap alam. Keadaan ini membuat sang 'Homo-sapiens' ini mengembangkan kemampuannya dan menghasilkan budaya yang membuat mereka mampu hidup berdampingan dengan alam. Mereka lantas masuk ke tahap berikutnya: Ontology. Manusia berhasil mengenal konsep 'Lingkungan' yang membedakan tempat mereka hidup sehari-hari dengan alam liar yang sebelumnya menguasai mereka. Lingkungan ini adalan bagian dari alam yang dibina oleh manusia sehingga antara alam dan manusia sama-sama 'saling-pengertian'. Hingga akhirnya manusia menjadi terlalu pintar dalam mengembangkan budayanya dan masuk ke tahap ketiga: Functional. Manusia mulai mengenal domestifikasi, hewan-hewan mulai diternakkan. Lahan-lahan dibuka untuk menanam tanaman yang dibutuhkan sebagai bahan pangan. Manusia mulai menguasai alam. Semuanya baik-baik saja hingga tiba pada masa di mana kerakusan menjadi latar belakang untuk menguasai dan mengambil lebih banyak lagi dari alam.

Dengan teknologi dan ilmu pengetahuannya, manusia mulai percaya diri. Mula-mula mengeksplorasi. Hitung sana, hitung sini ternyata untung besar maka mulailah eksploitasi. Keuntungan ini yang dipercaya dapat menghasilkan kebahagiaan, ini yang menjadi tujuannya. Materi ditumpuk hingga menggunung-gunung dalam bentuk uang yang kemudian dikenal sebagai modal atau kapital yang kemudian digunakan lagi untuk eksplorasi dan eksploitasi bagian alam lainnya. Semuanya untuk kebahagiaan manusia. 'Kebahagiaan' itu diterjemahkan dengan agak lucu, 'happiness is identified with pleasure and the absence of pain'. Ini prinsip pak Bentham di dalam bukunya yang ditulis pada tahun 1780-an, "Introduction to principles of morals and legislation". Kebahagiaan berhasil didapatkan oleh sebagian dari mereka, ditandai dengan adanya 'pleasure' tanpa 'pain' itu. Tapi sial bagi sebagian lainnya yang hanya mendapatkan 'pain' tanpa 'pleasure'. Kolonialisasi berbuntut penjajahan adalah contoh nyata yang pernah manusia alami, di mana kebahagiaan versi Bentham tidak terbagi rata antar sesama manusia.

Penjajahan bukanlah bentuk akhir dari ketidakseimbangan ini. Penjajahan kini sudah tidak ada. Ia sudah mati tapi arwahnya gentayangan membawa ide kebahagiaan dalam bentuk penumpukan modal/kapital sebagai tolak ukur utamanya. Tolak ukur kebahagiaan yang diperkenalkan oleh agama-agama kalah bersaing dengan gegap gempita kebahagiaan versi materialisme itu. Ada atau tidaknya penjajahan tidak berpengaruh terhadap sikap manusia terhadap alam. Untunglah, sebagian manusia yang nenek moyangnya adalah para penjajah itu mulai ada tersadar bahwa alampun punya hak untuk dipikirkan, tidak semata-mata untuk dieksploitasi. Itupun setelah alam angkat bicara dengan penyakit dan bencananya.

Namun sayangnya, ibarat naga, kepalanya sudah berbelok tapi badan dan ekornya masih menghempas ke arah yang lain karena momentum dan kelembaman. Kesadaran untuk memperbaiki hubungan dengan alam tidak cukup kuat untuk benar-benar langsung mengubah tabiat manusia. Perusakan alam masih terjadi di mana-mana dan makin tersebar dengan skala besar dan kecil. Sementara alam, ia bersikap apa adanya. Alam tetap konsisten dengan hukum sebab akibat. Jadi semakin besar kerusakan yang ia rasakan maka semakin besar pula akibat yang ia hasilkan. Belakangan banyak sekali berita bencana alam yang terjadi di tanah air. Banjir, tanah longsor, dan penyakit adalah yang paling sering terdengar.

Alam awalnya disediakan dalam keadaan yang seimbang dan harmonis. Manusia dalam kadar tertentu bisa hidup di dalamnya dengan harmonis pula. Ia menjadi bagian dari alam. Masing-masing eksis secara berimbang seperti dalam 'value-orientation' tahap kedua. Namun dari jumlah manusia yang senantiasa bertambah dalam keterbatasan sumber daya alam, tampaknya 'value-orientation' tahap kedua inipun tidak bisa selalu dipertahankan. Yang perlu diperbaiki adalah pemahaman kembali terhadap makna kebahagiaan. Kebahagiaan jangan lagi diukur hanya dari sisi materi. Untuk itu perlulah diperkenalkan dan diingatkan tentang konsep 'Kecukupan', bukan berlebih atau mengambil sebanyak-banyaknya. Sebenarnya ungkapan-ungkapan dari kitab suci dan agamawan banyak sekali berbicara tentang hal ini. Kaum spiritualis seperti Gandhi juga pernah menyinggungnya: "There is enough in the world to meet everyone's need but not enough for the greed of a single person".

Mudah-mudahan teguran Yang Maha Berkuasa bisa dipahami oleh kita semua.

( -- Turut prihatin atas banjir di Solo yang makin meluas hingga malam ini -- )

*) Photo Courtesy of Shabrina Hanifah


risalina wrote on Dec 29, '07
Tau gak? Kayaknya banjirnya reda gara2 pak sby mau pulang kampung ke pacitan.. Pulang kampung tiap hari aja, pak presiden:).
Add a Comment